Senja di bukit itu

Saat itu saya masih duduk dan merenung, walau entah apa yang sebenarnya saya fikirkan. Serasa kosong saja, tak ada alasan pula untuk tetap berdiam di tempat senyaman dan sedingin ini.

Saya masih bisa bertahan di tengah badai dan dinginnya rintik kabut kala itu. Entahlah saya tak faham apa yang membuat saya begitu nyaman jika berada di bukit ini, terlebih saat senja kala itu nampak sorot bayanganku jauh dan panjang sekali.

Menemani kesepian itu adalah merupaka  kesimpulan dari sebuah penghargaan khayal. Terutama saat menjadi bagian dari perjalanan menuju sepi serta meratapi bahwa sendiri itu adalah kebahagiaan yang tiada ternilai harganya. Tak ada yang bertanya dan menggangu lamunan itu… tak ada pula yang berani menanyakan sesuatu yang tak saya suka. Toh saya sendiri saat senja di bukit itu.

Bangunlah … sepertinya saya hanya sedang bermimpi. Karna malam ini dingin sekali.

Kehabisan Kopi Enak

Pagi ini saya harus tercengang ketika melihat toples yang biasanya terisi kopi telah dalam keadaan kosong, kopi enak buatan saya sendiri telah kandas ludes dalam satu bulan, dan stokpun ternyata telah habis.

Pada akhirnya kopi sachet sponsor dari liga Indonesialah yang jadi pilihan, entah kenapa saya suka dengan mocachinonya, terasa ada manis-manisnya gimana gitu. Walaupun bukan pilihan utama toh kopi sachet  yang super instan itu selalu jadi pahlawan jika kopi enak ( menurut lidah saya hehe )  buatan sendiri habis.

Jujur saja sedari kecil saya sudah terbiasa minum kopi, apalagi pagi hari sebelum sarapan, serasa wajib saja. Entah karna kebiasaab atau memang ini sudah menjadi ciri khas dari saya, ” ngopi wajib hukumnya “. 

Jika ngopi hanya saya jadikan sebagai gaya hidup seperti anak muda kota kekinian, rasanya saya dalam sehari semalam bisa bergaya samapai 10 kali bahkan lebih. Over sih, tapi memang itu kenyataannya. 

anggap saja tanpa judul

Iya banyak yang telah di korbankan sampai-sampai semua penderitaan masalah hati rasanya cukup sempurna, banyak pula yang sudah di perjuangkan dengan dalih cinta namun tetap saja jawaban sama itu itu saja, namun… ya tetap saja memberika  peluang untuk luka kembali.

Tapi sudahlah rasanya semua yang di perjuangkan harus benar-benar berahir, lebih tepatnya harus di akhiri secara paksa dan dengan ikhlas tentunya, walaupun jika di hitung waktu memang sudah memakan waktu yang lama dan amat sia-sia saja rasanya.

Seandainya waktu di gunakan untuk mendekati dan mencintai yang lain yang membutuhkan mungkin sudah sangat indah kisahnya. Tapi.. ya sudahlah semua sudah berlalu dan aku cinta kamu karba wajahmu. Itu saja kejujuranku… mulai hari ini aku encoba untuk menghapus wajahmu menggunaka cat tembok khayalanku.

Tulisannya kayak anak ABG ya hahaha… selamat malam, jangan lupa ngopi.

Aneh Memang

Sadar sekali saya sering di permainkan oleh orang-orang terdekat, seorang yang kadang saya percaya total namun tak menunjukkan titik balik. Yah mungkin karna begitulah dunia bisanis.. …terkadang harus mencekik orang yang menolong dan mempercayainya.
Saya yakin orang semacam itu takakan bertahan lama bahagianya. Saya kecewa juga dengan yang tak bertanggung jawab atas dirinya yang mengganggap orang yang berada itu “gampanglah dia orang kaya ” hah dia kira semua orang itu mendapatkan uang hanya turun dari langit. 

Biarpun saya bukan orang kaya, tapi saya berusaha menghargai rang yang kebih di banding saya itu. Saya tau mereka berjuang, malah lebih keras. Ah entahlah.

Meminta ampun kepada Tuhan oklah .. Tuhan maha penganpun, tapi urusan dangan manusia itu Berat untuk Ikhlas. Ini serius…

Anggap saja Tanpa Judul.

” kenapa harus sembunyikan cintamu “

Sempat berulangkali saya merasa tertipu olehmu, oleh ketidak jujuran yang melekat jauh didalam hatimu. Kenapa harus kau sembunyikan jika kau memang benar-benar berniat menjadikannya sebagai pilihan hidupmu. 

Saya juga terkadang tak faham dengan polapikirmu yang aneh, kenapa harus dekat denganku secara berlebihan jika di balik itu ada yang tersembunyi ? Kenapa coba ? Beri saya satu alasan agar saya bisa berdamai dengan waktu. Beri saya satu alasan agar saya bisa berdamai dengan apa yang telah berlalu. 

Semenjak saat itu pula, perjalanan panjang seakan terhenti begitu saja, terhenti tanpa harus menunggu kode ” stop ” atau bahkan berhenti tanpa harus terjatuh namun sakitnya melebihi saat suntikan masuk di mata. Ah sudahlah mungkin ini hanya tulisan ngawur saja. 

Perkenankan saya beranjak bangun dari mimpi tanpa harus melihat pagi hari. 

Semenjak saat kau menundastakan kisah itu dan entah kenapa saya selalu saja bisa memaafkan hal yang sama untuk kejadian yang sama dalam waktu yang berbeda. 

Vespa

Sempat saya menjadi seorang scooteris amatir, tepatnya empat tahun lalu. Ya vespa yang saya beli dari seorang teman dengan harga 600 ribu. Vespa tanpa surat juga mesin dan tampilan yang seadanya.

Awal mulanya menyukai vespa mungkin karna beberapa teman dekat yang mencintai vespa dari lubuk hati terdalam, eh ternyata nular juga. Walau pada akhirnya memang hati saya tak berada di sana.

Terbukti dengan 4 bulan kemudian vespa saya nganggur karna saya begitu susah mengendalikannya. Maklum ini vespa apa adanya, untuk jalan jauh saya tak berani, karna jika ngambek tak pandang itu lampu merah atau depan kantor polisi. Sesukanya.

Dan sekarang vespa tercinta dengan nomer 23 itu katanya mesinnya sudah hilang atau lebih tepatnya di pakai oleh teman saya yang entah siapa. Ah sudahlah tak apa, setidaknya dalam hidul saya pernah memiliki sebutan anak Vespa. 

Mungkin suatu ketika jika sudah ada rizki saya masih tertarik dengan Vespa yang masih bagus, agar mudah mengendalikannya. Yah karna saya tak bisa bengkel sama sekali.

Salam vespa. Satu vespa sejuta saudara. Bukan begitu para scooteris ? 

Penyakit atau bukan ? 

Saya ingin cerita yang mungkin beberapa orang akan bilang saya sombong atau apalah. Tapi, ini kenyataan pada hidup saya hingga hari ini, saya juga tak memungkiri suatu saat akan berubah tapi untuk saat ini begini adanya.

Ya saya beberapa kali mendapat tawaran kerja tanpa harus saya mencarinya, sesuatu yang berbanding terbalik dengan beberapa teman-teman saya di luar sana. Tapi… ya tetap saya tolak dengan jawaban ” ya nanti saya fikir fikir dulu ” dan jawaban sama hingga hari ini. 

Dari tempat Desain hingga Instansi milik negara yang beberapa orangnya kenal dengan keluarga saya juga menawari hal serupa. Namun entah kenapa saya masih bersikukuh ingin bertani kopi. Karna saya rasa di situ letak kehidupan saya. Tak ada paksaan apalagi berat di hati… yah walaupun pendapatan tak tetap tapi saya masih merasakan cinta ada di dalamnya.

Bicara masalah kerja, pun biacara masalah cari uang bukan ?… saya merasa menjadi seorang petani adalah sebuah bisnis, ya bisnis yang bisa menghasilkan uang tanpa takut adanya tekanan dari siapapun. Kalau ingin hasil maksimal maka kerja maksimal. Rasanya adil semacam itu.

Cukup dengan 3 – 4 jam sudah bisa mendapatkan hasil asal saja rutin di lakukan, tak perlu memaksakan mencari yang susah dan membosankan jika yang mudah dan indah saja bisa di jalani. Kerja itu masalah hati bukan masalah gengsi… bukan begitu ? …

Tak sesuai dengan apa yang pernah di pelajari saya rasa tak apalah. Karna disana juga toh akan menpat lebih banyak lagi ilmu. Saya yakin apa yang kita pelajari tak akan hilang dengan mudah seperti air yang mudah meresap di kapas.

Ini saya dengan segala kesombongannya… dan inilah hidup saya. Jadi kita sama sama cari uang jangan lagi pernah bertanya kepada saya ” kok gak kerja ? “, karna itu adalah sebuah pertanyaan konyol.