Hujan..

Agustus belum berlalu namun hujan sudah menghadang di tengah perjalanan bulan kemerdekaan ini. Setelah lelah dengan banyaknya kabut asap akibat kebakaran yang melanda beberapa daerah di sekitar saya kini tinggallah kabut yang di sertai angin dan dingin datang menggantikan.

Di bulan ini pula banyak yang punya nama ” Agus ” sangat jelas bahwa dia berulang tahun di bulan kemerdekaan ini. Bulan yang juga sakral dan bersejarah bagi Republik ini.

Ah sepertinya bulan ini juga harus di jadikan bulan intropeksi buat saya, bahwa kegiatan yang berlebihan itu bisa membuat lelah dan pada akhirnya harus rela terkapa dalam beberapa hari. 

Instagram Lagi

Dalam beberapa waktu lalu memang saya gak upload beberapa foto perjalanan, bukan karna masalah sinyal. Toh kalau cuma masalah sinyal saya sudah terbiasa dan sabar untuk hal itu.

Hape pintar saya sebelumnya entah kenapa tiba-tiba kepintarannya menghilang dan ngambek pada instagram, dan alhamdulilah juga berkat kerja keras selama setahun terahir ini sebagai petani dan sebagai pedagang amatiran, saya sudah bisa ganti hape pintar baru. Cie hape baru..

Dan dengan semangat, saya sedang rajin-rajinnya upload foto di Instagram. Walaupun untuk satu foto mungkin perlu di coba berulang kali atau bahkan mencapai 10 menit untuk upload satu foto. Ah sudahlah tak apa karna setidaknya mengenalkan daerah lewat foto itu mungkin akan lebih berguna di bandinh hanya selfi-selfi sendiri… hihihihi..
Cek aja ya @bolanggayo

Sakit lagi

Setelah perayaan tujuh belasan yang sangat melelahkan yang tertinggal hanya capek dan beberapa hadiah seperti mie instan dan kopi saja. 

Namun ada hal lain di balik hadiah beberapa acara perlombaan tujuh belasan, ya saya sakit saya sakit semacam tipus . Bisa jadi karna kelelahan atau memang karna apalah saya makan tak enak badan terasa dingin dan berkeringat. 

Lomba

Bulan Agustus adalah bulannya para pemburu lomba, dari mulai kelas makan kerupuk sampai karauke dan lomba unik-unik lainnya semuanya tersedia hampir di semua penjuru negri ini.

Walau dalam tahap pembangunan kita berbeda, dari segi pola fikir juga mungkin juah berbeda tapi untuk panjat pinang dan makan krupuk saya rasa kesatuan dan persatuan tanpa adanya kesepakatan antar daerah pun tanpa sidang di DPR sana, kimpaknya tetap terjaga hingga saat ini.

Serentak bahkan Lebaran saja harus di perdebatkan, namun kita harus salut pada lomba makan krupuk dan kawan-kawannya karna bisa satu dan tanpa perdebatan. 

Tapi ngomong-ngomong udah ikut lomba apa kalian ? 

Selamat Ulang Tahun ” Indonesia “

Seberapapun saya geram dengan cara berolitik beberapa manusia di Negri ini. tetap saja Indonesia adalah Tanah tumpah darahku. Jika kata Panji ” Indonesia layak di perjuangkan ” dari banyak kondisi yang terjadi.

Saya baru bisa menuliskan ini di tanggal 18 Agustus, walaupun saya tak bisa seperti Owi – Butet yang bisa mengharumkan nama Indonesia Lewat Badminton tepat di hari Ulang Tahun-Mu.

Sebisa mungkin saya akan jadi yang terbaik dan tak menyusahkanmu Indonesia, karna saya yakin sudah terlalu banyak beban yang kau pikul , terlalu banyak pula jasa para pahlawan yang terlupkan.

ah saya sangat berdosa sekali rasanya, belum bisa berbuat apa-apa yang jelas untuk Negri ini, tapi setidaknya saya sudah memilih Kopi sebagai tumpuan hidup untuk saya dan Negri ini.. tapi entahlah berguna atau tudak…

selamat ulang tahun Indonesia, semoga yanh selama ini menusukmu akan di sadarkan oleh Tuhan, dan bila mereka tak sadar Latnat saja, begitu pula denganku.

Berjuang tak harus berperang, berjuanglah dengan caramu sendiri. 17 di 71 sungguh memiliki banyak makna di balik hiruk pikuk yang di pertontonkan elit politik. maknai saja sendiri, renungkanlah dan selalu Merdekakan dirimu.

Kamu, kaca mata dan Goresan Pensil

letih disini
ku ingin hilang ingatan

disini kembali kau hadirkan ingatan yang seharusnya kulupakan.

– rocker rocker –

duduk dan santai sembari melayang fikiran ini kamasalalu, dengan segelas kopi yang setia menemani di tengah siang bolong yang panas, udara nampak sedikit marah dengan caranya menyapa yang tak romantis sama sekali.

” jangan biarkan aku melupakanmu ” sebuah kata yang terlintas dari dalam diri ini, walau sebenarnya kata-kata itu sudah tak pantas untuk aku ungkapkan pun hanya dalam hati. terlebih karna kondisi pun juga usia yang tak lagi ABG.

saya sadar benar bahwa mencintai tanpa memiliki seutuhnya itu sulit dan bahkan teramat sulit. apalagi harus mencintai sosok yang seharusnya tak pantas untuk menerimanya, toh sebesar apapun saya mencintaumu begitu sebaliknya tetap saja itu sebuah kata percuma pada akhirnya, selain hanya meninggalkan cerita saja.

dulu kita pernah bersama, senyum lepasmu saja aku ingat betul, saat gingsul gigimu nampak dikala kau senyum, kacamatamu juga membuatmu semakin manis dan cantik. Sering saya melukismu walaupun tingkat kemiripannya entah baru berapa persen, toh setidaknya semuanya pernah kulakukan untuk membahagiakanmu, walau pada akhirnya saya tau bahwa rindu yang pernah kita punya itu hanya kenangan saja.

saya harus sadar dan ikhlas menerima bahwa waktu kian berlalu dan ikatan yang telah kamu sepakti itu tak mungkin berubah, sebesar apapun rasa itu, bahkan sekarang ” untuk cemburu saja saya tak punya hak ” semua berjalan pada porosnya biarlah kisah ini hanya tertinggal di goresan pensil saja.

kisah kita hanya seperti “ status hati yang dipalsukan saja ” , sepertinya saya memang salah menitipkan hati, karna jika itu sebuah kebenaran maka kisahnya tak seperti ini, jika waktu bisa berputar kebelakang mungkin satu hal yang saya lakukan adalah ” mencari cara agar tak mengenalmu ” karna bagaimanapun mengenalmu adalah perkara paling sakit yang saya rasakan, kamu tau itukan ? ….

” tolong jangan paksa saya untuk melupakan kamu dan kisahmu, karna kamu harus tau itu sebuah ketidak mungkinan ”

*tulisan ini di inspirasi oleh seorang sahabat.

Dia…

berapa lama pula saya harus menunggu sesuatu yang sama sekali tak jelas, lebih tak jelas ketimbang makhluk halus, walau tak nampak tapi benar keberadaannya memang ada, sedangkan cinta yang ada dalam dirimu itu … ? aduh #eh

Bagiku lebih mudah menggenggam air, dari pada di paksa untuk menggenggam hati kamu yang mudah layu dan mudah mekar sewaktu-waktu, sungguh itu adalah perkara yang teramat sulit, sesulit menangkap debu yang berterbangan.

ingin mangatakan bahwa saya tak mudah menyerahpun tak berani untuk masalah hati yang satu ini, mengatakan saya mudah menyerahpun sungguh tak patut karna suatu ketika rasa iti tumbung tanpa mengenal waktu dan kapan datangnya.

walaupun saya tau, ” mencintaimu tak lebih nikmat dari sesondok seduhan kopi ” tapi tetap saja rasa ini tak mudah di hilangkan hanya karna pahitnya.

Dia ya dia yang tak mudah pergi walau sebenarnya telah memaksaku untuk jauh dari peradaban dinianya, ah entahlah selamat ngopi saja, biarlah waktu yang akan menjawabnya.