1880 mdpl

Sunyi, sepi, berkabut dan dingin menusuk hingga tulang bagian terdalam, menggigil adalah hal biasa bagi sang penghuni tanah 1880 mdpl. 

Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan kayu dan beberapa rumah kecil yang terbuat dari papan. Pun hutan masih terlihat jelas dan sangat dekat untuk di jangkau, suara burung tertutup oleh primata yang begitu bahagia atau sedih dengan kedatangan penghuni baru yang ternyata akan menghabiskan tempat tinggal mereka. 

Tempat ibadah seadanya, makan saja masih di tanggung oleh razim yang berkuasa kala itu, yah kala itu adalah tahun 1997, kala itu jangankan Instagram, bahkan friendster saja belum terfikirkan apalagi semacam facebook dan Bbb. Jangan tanya sinyal, karna malam saja masih gelap gulita serta suara berbagai macam binatang buas setia menyapa malam dan terdengar dari kamar kecil beralaskan tikar.

Mainan anak-anak semacam saya kala itu adalah broti ( potongan kayo kotak ) serta di rakit dengan tali rotan untuk menariknya, itu semua sudah saya anggap sebagai Bus antar kota. 

Bersambung.. .

Kisah Mangkuk

Suatu hari kita pernah bersama, pernah mengukir sebuah catatan manis dan pahit yang kini hanya tertinggal di belahan sisi lain dari otak untuk selalu bisa mengingatnya jika diinginkan atau saat ada memori yang tanpa sadar terakam kenangan itu. 
Di jalan yang tak lebar, sepi dan berbatu terjal. Jalan itu kini telah ramai dengan lalu lalang kendaraan, berbeda dengan tahun dimana kau dan aku pernah memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa adanya tanda tangan, pun tanpa ada saksi dan surat resmi dari pemerintah.

Cerita tentang kita memang layak untuk di kenang, karna bukan hanya masalah manis dan pahitnya saja yang terekam di dalamnya, masih ada sisi lain yang tak dimiliki oleh makhluk bernama Manusia saat memutuskan memadu kasih dengan kesepakatan bersama dan janji setia yang ternyata hanya bualan bersama pula.
Ada banyak saksi yang di datangkan dalam perjalanan itu, walaupun mungkin jika di tanya saja saksi itu tak bisa menjawabnya, bahkan sang penanya bisa di anggap gila, iya gila yang kelasnya sudah sampai pada titik terlemah dari kewarasan itu.
Begitulah manusia mangkuk dengan kisah ember, batu , kayu, dan asalkan kamu tau ” Nusakambangan dua buronannya kabur, tapi ku Harap kamu tak pernag kabur dari pulau itu ” .

Tentang Dia.

Seberapa pantas sebenarnya berharap, sebuah harapan yang nun jauh sudah dilupakan oleh nurani ini. 

Otw mancing

Rutinitas yang saya lakukan akhir-akhir ini adalah mancing, selain bertani mancing adalah hiburan yang sangat membahagiakan, hampir setiap selepas sholat Jum’at hal semacam itu selalu saja saya lakukan.

Merantau

Bahkan saya tak berani melihat matanya, ketika dia berucap ” mas aku ke-Jambi merantau ” , saya sok asik dengan pancing yang masih saya rakit, sok cuek, karna sebagai lelaki elegan saya malu jika dia melihat mata saya memerah dan mulai ber-air, walaupun bahkan dia terlihat lebih memerah dan berair. 
Bukan kali pertama saya merasakan hal ini, dalam perantauan bahkan hampir setiap tahun saya di tinggal sahabat terbaik, saya tak menyangka jika hal tersebutpun terjadi di kampung halaman, sesuatu yang demi Tuhan pencipta semesta alam saya tak pernah menyangka hal itu terjadi.

Sedih iya pasti, bukan hanya sedih tapi sesuatu yang sudah dalam tingkatan banget super, bagaimana tidak, tidak ada panas, malah banyak banyak hujan, lakok kabar itu datang seperti badai yang menghancurkan agende besok kita akan pergi memancing. 

Tapi saya sadar, hidup adalah pilihan, dan pilihan itu harus di lakukan walaupun dengan hati yang berat, dengan tetes air mata kerinduan yang bahkan dalam waktu tiga bulan setelah pergipun tak akan sembuh. 

Selamat mencoba hidup di perantauan kawan, hal yang dalam hidupmu baru pertama kau lakukan, pergilah dan jangan pernah menyesal atas kepergianmu, karna bagaimanapun itu akan menjadi catatan dalam hidupmu kelak. 

Jika bosan dan tak ada hati di tanah perantauan, kamu harus ingat ” kamu punya rumah untuk pulang, kamu punya sahabat untuk di ajak bercerita, kamu punya orang tua dan orang-orang terdekatmu yang selalu merindukanmu ” 

Ah sudahlah, … longo kono mar ah, koe ncen ASU kok, moga sukses, nek koe bali koe jek duwe utang aku 50.000, kono kerjo ge nyaur utang.

*ngetik sambil brebes mili ( jawa : red )

Sandal Jepit

kenyamanan memakai sandal jepit legendaris itu sudah tak bisa dipungkiri lagi, terlebih sandal dengan merek swallow itu adalah sandal yang amat sangat nyaman, bahkan kenyamanannyapun melebihi masa-masa indah bersama mantan yang WA nya tak pernah di balas sama sekali. 
sandal jepit, merupakan penemuan yang amat gemilang, terlebih sandal dengan bahan karet itu, sandal yang notabenya selalu berpasangan dengan warna yang sama,ukuran yang sama dan merek yang sama, kecuali sandal yang di cetuskan Joger, satu pasang sandal dengan warna yang berbeda, mungkin dengan filosofinya ” berbeda tetapi tetap satu pasangan “. 
kembali kesandal jepit legendaris bermerek swallow, sandal yang amat sangat rawan hilang ketika di bawa keacara-acara yang orangnya banyak, semisal pengajian, tahlilan , bahkan Jum’atan. biasanya orang akan lupa bahwa sandal jepit yang ia bawa sudah usang dan  tua  bangka, namun siapa cepat dia dapat ( yang bagus ), dan bagi yang keluar terahir maka akan dapat sandal yang mungkin sudah putus.. iya putus .. walaupun harus disambung dengan rafia. 
sandal jepit memberikan kesan sendiri, banyak sejarah dan kejadian yang banyak orang alami, dari hilang, sampai sandal jepit yang semakin kreatif dengan berbagai ukiran, bisa jadi karna takut kehilangan sandalnya ada tulisannya ” otak depan ” begitu salah satu teman saya yang bernama umar ( bukan nama samaran ). ata ada salah satu teman yang namanya tak saya sebutkan bahkan pernah memberi lukisan mantan di sandalnya.. betapa sandal jepit memberikan bentuk kreatifitas yang tinggi. 
selamat malam jum’at jangan lupa yasinan bagi yang menjalankannya. 
jadi kapan kita tukeran sandal jepit saat lamaran ? 
#eh baper lagi.. 😦

MEDSOS

setiap orang bisa memilikinya dengan gratis, bahkan bisa memiliki akun lebih dari satu, bukankah mudah sekali mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, bukankah mudah sekali terlihat pandai dengan berbagai komentar yang dilontarkan dengan nada garang menggunakan akun abal-abal karna takut wajahnya terlihat.
mengintai orangpun makin mudah, apa yang dia lakukan, apa yang dia rasakan, bahkan jomblo dengan mudah mengidentifikasi apakah si empunya dengan foto profil yang caem itu masih sendiri atau bahkan sudah ada yang punya atau bisa jadi dia sedang dalam kondisi masalah asmara, sehingga ada jalan menuju roma dengan sangat mulus. itulah media sosial.
banyak orang merasa bijak dengan hanya memberikan like dan komen amin saja di gambar yang entah asalmuasalnya darimana, seperti ada jaminan masuk surga jika melakukan perkara itu, seperti ada jaminan bakal di beri ampun oleh Tuhan akan semua dosanya. la kok penak men urepmu ? …

Dengan adanya media sosial mudah sekali kita menebak karakter si empunya akun tersebut, darisisi bahasa semisal atau dari sisi foto yang di unggah, apakah dia seorang aktifis pembela JKT48 atau bahkan dia adalah seorang fans berat dari Kangen Band, kangen lagi, lagi-lagi kangen, kangen banget dan tak ada yang di kangenin. 
Begitulah kemudahan yang di dapat dengan punya medsos, selain mudah pula di gunakan untuk jualan di era yang serba online ini, baik buruknya tergantung siapa yang memegangnya, karna media sosial itu penurut dengan tingkatan super, bila di suruh galak ya galak, disuruh diam ya diam, bahkan bisa kok buat untuk mendapatkan kamu… iya kamu.